Dimanakah saat ini kita berada? Apa sudah benar jalan yang kita tempuh? Luruskah kita berjalan dari tiap cabang yang selalu kita jumpai di depan jalan?
Entah kenapa sejak gw menginjak masa remaja, masa dimana ego seseorang akan mengalir dengan derasnya mengikuti jalan yang selalu dianggapnya benar untuknya, gw mulai terpikir tentang masa depan yang selalu menjadi rahasia terindah yang diberikan Allah SWT kepada gw. Mungkin gw kekurangan masa muda yang selalu dikatakan orang sebagai masa terindah.
Diusia yang masih hijau, langsung atau tidak bonyok gw selalu melatih gw untuk bertanggung jawab terhadap tiap pilihan jalan yang harus gw pilih. Bokap selalu mengajak berdiskusi tentang prediksi-predisi kedepan terhadap tiap pilihan yang gw ambil. Nyokap selalu mengungkapkan tiap hikmah dari pilihan gw. Sampe sekarang gw ga bisa terlepas dari saran pendapat kedua orangtua gw karena gw turut berfikir orang tua masih punya andil yang besar terhadap pilihan yang harus gw pilih sebagai rasa hormat, cinta, dan sayang kepada mereka yang telah membesarkan gw dengan perjuangan yang sangat luar biasa dalam membentuk gw saat ini.
Sampai tiba hari itu, dimana alur pikir dan hati gw bertentangan dengan bokap. Awal bulan Desember 2011, gw meminta istri untuk menyusul gw yang sedang tugas di jogja. Bokap berpendapat, ga etis bila istri jalan sendiri untuk jarak yang jauh, akan ada penilaian buruk dari rekan-rekan kantor bila istri turut berada di lokasi tugas, jika ada hal buruk terjadi pada istri di jalan maka itu akan menjadi kesalahan terbesar gw. Gw ga sanggup untuk mengutarakan argumen gw kepada bokap yang saat itu sangat emosi. Bagaimanapun juga status gw masih anaknya dan pantang bagi gw untuk memperkeruh suasana dengan argumen gw yang bisa langsung dia patahin.
Argumen gw yang pengen gw utarain pada saat itu, ini merupakan moment yang tepat melakukan study tour buat istri gw terkait etika istri di kantor gw yang gw nilai kurang dipahami oleh istri gw, memberikan akses buat istri gw agar dia mengetahui apa dan bagaimana cara gw kerja di luar kota. Maksudnya untuk menghilangkan kekhawatiran istri terhadap gw yang sedang jauh darinya. Dan yang terakhir menunaikan janji gw untuk membawanya ke jogja di akhir tahun.
Untuk mengambil keputusan itu, gw tetap mempertimbangkan saran pendapat yang diberikan bonyok kepada gw. Bagaimanapun saranpendapat mereka merupakan yang terhebat dari konsultan manapun. Saran pendapat mereka merupakan acuan bagi gw untuk meminimalisir segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi. pemilihan rute perjalanan, akomodasi, posisi yang dapat membebaskan dia untuk memperhatikan pekerjaan gw tanpa diketahui rekan-rekan kerja dan bos gw.
Dan semua terkendali seperti yang gw rencanain. Semua ga lepas dari saran pendapat dari bonyok. Namun disisi lain, bonyok masih memiliki kekhawatiran rencana gw ga berjalan dengan maksimal. Dengan kondisi demikian gw merasa, ini merupakan pernyataan sikap gw untuk menunjukan bahwa gw bisa menerapkan apa yang diajarkan orang tua gw dari kecil. Dan pasti bokap berpikiran seperti itu, padahal bukan itu yang gw pengenin.Gw cuma menjalankan rencana hidup gw. itu doang, bukan berusaha menunjukan kemampuan gw ma bonyok. Ga ada jalan yang ga bergelombang, ga ada jalan yang tak bersimpang. itu makanya gw selalu berfikir
Dimanakah saat ini kita berada? Apa sudah benar jalan yang kita tempuh? Luruskah kita berjalan dari tiap cabang yang selalu kita jumpai di depan jalan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar