Hari Ketiga
Diberanda rumah sakit, dengan sekepul asap dan sebatang rokok terselip ditangan. Aku yang sedang berkelakar dengan bapak dan Pamanku yang menjenguk istriku terhenti ketika, Dhani dengan ekspresi muka "manyun" tiba-tiba datang dan langsung memelukku serta langsung duduk dipangkuanku. "Abis dimarahi ya?" secuil pertanyaanku menebak apa yang terjadi padanya. ia hanya mengangguk pelan. "Ama mamah?", dia kembali mengangguk lemah. Kemudian dia menjelaskan kenapa dia bisa sampai dimarahi oleh mamanya. Istri pamanku yang tak lama ikut bergabungpun memberi pengertian bahwa dhani dimarahi karena dia salah. Akupun mengarahkan dhani untuk meminta maaf kepada mamahnya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Sejenak dia memandangku kemudian langsung masuk ke bilik neneknya untuk meminta maaf kepada mamahnya. Paman dan bibiku nampak heran dengan kedekatanku dengan Dhani yang seolah memang anakku. 5 menit kemudian, "Om Jiiiiiinn" diiringi keceriannya yang khas memanggilku dari dalam dan langsung kembali duduk dipangkuanku.
"Om Jin aku pulang dulu ya, mau mandi" itulah kalimat penutup hari ketigaku berada di RS.
Hari Ke Empat
seperti biasa dari pagi kami sudah bermain kembali sembari menghibur istriku yang masih terbaring. keadaannya sudah jauh lebih sehat hari ini. Bahkan seharusnya sudah pulang jika hasil lab.nya menyatakan bahwa dia sudah sehat, namun karena belum ada dokter yang membacakan hasil lab.nya jadi kami menunggu. Siang itu, ketika aku ingin tidur, sesosok kepala dengan senyum khasnya kembai nampak dari balik tirai bilik. melihat bocah itu, aku lebih ingin bermain dengannya walau badan ini terasa capai sekali. Kami kembali bersenda gurau. Meledek istriku yang belum mandi. Haha. Indah memang suasana saat ini. Kami seperti keluarga kecil yang bahagia. Tiba-tiba, "Pluk" tiang infus jatuh tepat di jidat Dhani. Bocah itu nampak menahan sakit dan air matanya. Namun sorot matanya ingin menunjutkan kepadaku dan istri bahwa dia anak yang kuat dan tidak cengeng. Aku bangga padanya. "Dhani hebatkan om, ga nangis"
ada benjol di jidatnya, aku langsung meminta maaf kepada mamah dan abahnya atas kejadian ini, tapi lagi-lagi "tiangnya jatoh sendiri" berusaha membelaku.
Dhani, kamu emang bocah super!
Didepan keluarganya yang lain Dhani menunjukan bahwa dia dekat dengan ku, beberapa hal yang aku ajari selama beberapa hari ini selalu dibanggakannya didepan keluarganya yang datang menjenguk neneknya. Seperti biasa, ketika aku ingin membeli seuatu di sekitar rumah sakit, dia pasti ingin ikut. Tanpa aku minta kembali, dia langsung berteriak "mah, aku jalan ikut om jin ya". lagi-lagi membuat yang mendengarnya heran dan tertawa,
Pagi hari di hari kelima, istriku sudah membaik dan sudah bisa pulang. "Om Jin!!!!!!!! Kalo om Jin pulang aku main ama siapa?"
aku tak bisa menjawab. ada rasa ingin selalu bersamanya. Dhani membantuku barang-barangku. bahkan ketika aku membayar administrasi rumah sakit, dia dengan setia menemani istriku sarapan. Itulah perpisahan kami. Aku yakin kami pasti bisa ketemu lagi. Satu hal yang aku ingat, dia jalan di Jalan Situ Tipar. Tanpa aku ketahui rupanya dia terus menatapku yang hilang diujung lorong Paviliun Mawar rumah sakit ini.
Senang istriku sudah sehat, sedih karena harus berpisah dengan Dhani, si Bocah Super Om Jin.
Putera Penipu
Dibesarkan dengan lingkungan yang tak bersahabat, menipu bukan sebuah tindakan yang salah namun sebuah tindakan bersahabat.
Minggu, 01 Mei 2016
Senin, 20 Mei 2013
Rizky Ramadhani dan Om Jin part 1
"Om Jin!!!!!!!! Kalo om Jin pulang aku main ama siapa?"
Itulah kalimat terakhir yang keluar dari bocah lima tahun yang selama 5 hari menemaniku di Rumah Sakit ketika Istri dirawat karena penyakit Typhus. Kedekatanku dengan bocah itu diawali ketika sepasang mata mengintip dibalik tirai yang memisahkan ruang pasien. Ketika beradu pandang dengan sang pengintip, akhirnya bocah itu memberanikan diri untuk masuk ke bilik tempat istri dirawat. Dengan tertunduk malu, wajah polos menyunggingkan sebuah senyum yang terlihat damai. Aku mengambil sebungkus biskuit dan langsung memberikannya pada bocah itu. Senyumnya semakin melebar dan langsung keluar bilik menuju bilik neneknya yang sedang dirawat juga. "Udah bilang makasih belum ma om-nya" terdengar suara dari seberang bilik dengan gaya khas keibuan. Tirai bilik di buka dan "Makasih Om". Itulah kata pertama yang kudengar dari mulutnya.
Rizky Ramadhani, Lahir pada 15 oktober 2007 merupakan cucu dari Ema' Namah dan Baba Ni'mat. Ema dirawat karena kadar gulanya sangat rendah. Sebulan sebelumnya Ema' juga dirawat di RS Bhayangkara Brimob Kelapa Dua dengan Kadar Gula yang tinggi, dirawat selama 15 hari dan diizinkan pulang karena semua kadar kesehatannya sudah dalam keadaan normal. Namun karena ga mau makan dan penggunaan obat tetap berlangsung akhirnya kesehatannya kembali memburuk dan sempat koma beberapa saat sebelum dilarikan ke Rumah Sakit. Bahkan ketika dalam keadaan koma, tetangga ema' sudah mau datang melayat. Keputusan tepat dari keluarga untuk segera membawanya ke Rumah Sakit hingga ema' dapat kembali "bawel".
Karena dirawat dalam satu ruangan, akhirnya aku dan keluarga ema' menjadi akrab, khususnya dengan Dhani -nama panggilan bocah itu- dan baba kakenya. Dhani dapat dikatakan sebagai anak yang pintar, aku sebagai yang lebih tua dapat dengan mudah bicara apapun dengannya, "Nyambung". Jika ada kata atau hal baru yang belum diketahui, maka dia akan segera menanyakan dengan gaya khas seorang bocah. Satu hal yang aku sukai dari bocah ini adalah ketika aku memberitahu bahwa yang dilakukannya itu salah atau tidak baik, maka ia akan segera menuruti omonganku. Dan tidak perlu berkali-kali untuk memberitahunya, cukup sekali dan ia dapat segera mengerti dan tidak mengulanginya lagi. Canda tawa kami menghiasai muramnya suasana ruangan rumah sakit. Banyak senyum yang tercipta melihat kedekatan dan tingkah pola kami.
Hari Kedua,
Diawali ketika Adiku, rara, datang bersama pacarnya untuk menjenguk kaka iparnya yang keadaannya belum mengalami perubahan berati di hari kedua dia dirawat. Karena air kemasan untuk yang datang menjenguk habis, aku meminta tolong kepada rara untuk membelinya. Selain beli air kemasan ternyata dia juga membeli gorengan. Ketika aku, rara dan pacarnya beristirahat di luar ruangan sambil menikmati gorengan, dhani mendekat ke arahku. Rara berinisiatif menawarkan gorengan kepada dhani. Tanpa diduga, Dhani menerima tawaran tersebut dan langsung mengambil bungkusan gorengan tersebut sambil berlalu ke bilik neneknya. Kami bertiga langsung terdiam dan saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa melihat polah anak ini. "a, maksud gw kan nawarinnya satu, napa sebungkus yang dibawa?" ucap rara diringi tawa. "Namanya juga bocah ra."
Di dalam bilik, adikku yang lain juga datang bersama orang tuaku, dalam kesempatan ini aku mengajarkan untuk mencium tangan orang yang lebih tua. Bapak dan Ibu kaget, tiba ada sesosok bocah dengan sopan menjawab salam dan langsung mencium tangan mereka. "a, ini siapa?" tanya ibu yang sedang dicium tangannya. Dhani juga dengan mampu menjawab semua pertanyaan ibu dan bapak dengan gayanya yang polos. "a, bawa pulang aja nih bocah kita adu ama anak komplek" kelakar bapak yang terlihat senang bermain dengan dhani. Dhani memberikan kecerahan sendiri bagiku dan istri. Melihat polah Dhani, istriku juga nampak bahagia.
Seluruh keluarga ema' baik anak maupun saudara kandungnya memanggilku dengan sebutan abang dan istriku dengan tante. Kata abang yang berati penghormatan. Mereka juga senang melihat kedekatanku dengan Dhani. "Om, namanya Abang ya?" tanya dhani sambil duduk diatas pagar beranda menatap ke arah jalan. "Bukan", "tapi kok mama ama abah manggil om abang sih?", "Panggil aku Om Jin" jawabku singkat, tawa kami langsung meledak yang rupanya menjadi perhatian baik yang berada di beranda maupun yang diruangan. Sejak saat itulah dia memanggilku dengan nama OM JIN sedangkan istriku dipanggil dengan nama Kaka Jin. Nama ini yang mendekatkan kami berdua. Namun nama itu juga membuat kaget beberapa orang uang mendengarnya namun selalu diakhiri tawa.
Ketika aku ingin membeli roti untuk istriku, dhani merajuk ingin ikut denganku. Akupun mengizinkannya jika mama atau abah dhani memberikan izin. Secepat kilat dia kembali ke bilik neneknya dan berteriak, "Mah aku pergi dulu ya ikut Om Jin", sontak ucapan itu membuat kaget mama, mamang dan abahnya dhani, bahkan sang nenek yang masih terbaring juga kaget mendengarnya. Namun semua menjadi tawa ketika Dhani menjelaskan bahwa Om Jin yang dimaksud adalah aku. Diwarung sekitar rumah sakit pun gempar ketika dhani yang berada 1 meter dariku menunjuk sebotol aqua "Om Jin, aku mau minum". Penjaga warungpun dengan wajah heran langsung menatapku dan berkata "anaknya bisa melihat hal ghoib ya pak?", "iya, indigo" jawabku singkat menimpali statemennya. pengunjung lainpun terheran-heran melihat Dhani.
Itulah kalimat terakhir yang keluar dari bocah lima tahun yang selama 5 hari menemaniku di Rumah Sakit ketika Istri dirawat karena penyakit Typhus. Kedekatanku dengan bocah itu diawali ketika sepasang mata mengintip dibalik tirai yang memisahkan ruang pasien. Ketika beradu pandang dengan sang pengintip, akhirnya bocah itu memberanikan diri untuk masuk ke bilik tempat istri dirawat. Dengan tertunduk malu, wajah polos menyunggingkan sebuah senyum yang terlihat damai. Aku mengambil sebungkus biskuit dan langsung memberikannya pada bocah itu. Senyumnya semakin melebar dan langsung keluar bilik menuju bilik neneknya yang sedang dirawat juga. "Udah bilang makasih belum ma om-nya" terdengar suara dari seberang bilik dengan gaya khas keibuan. Tirai bilik di buka dan "Makasih Om". Itulah kata pertama yang kudengar dari mulutnya.
Rizky Ramadhani, Lahir pada 15 oktober 2007 merupakan cucu dari Ema' Namah dan Baba Ni'mat. Ema dirawat karena kadar gulanya sangat rendah. Sebulan sebelumnya Ema' juga dirawat di RS Bhayangkara Brimob Kelapa Dua dengan Kadar Gula yang tinggi, dirawat selama 15 hari dan diizinkan pulang karena semua kadar kesehatannya sudah dalam keadaan normal. Namun karena ga mau makan dan penggunaan obat tetap berlangsung akhirnya kesehatannya kembali memburuk dan sempat koma beberapa saat sebelum dilarikan ke Rumah Sakit. Bahkan ketika dalam keadaan koma, tetangga ema' sudah mau datang melayat. Keputusan tepat dari keluarga untuk segera membawanya ke Rumah Sakit hingga ema' dapat kembali "bawel".
Karena dirawat dalam satu ruangan, akhirnya aku dan keluarga ema' menjadi akrab, khususnya dengan Dhani -nama panggilan bocah itu- dan baba kakenya. Dhani dapat dikatakan sebagai anak yang pintar, aku sebagai yang lebih tua dapat dengan mudah bicara apapun dengannya, "Nyambung". Jika ada kata atau hal baru yang belum diketahui, maka dia akan segera menanyakan dengan gaya khas seorang bocah. Satu hal yang aku sukai dari bocah ini adalah ketika aku memberitahu bahwa yang dilakukannya itu salah atau tidak baik, maka ia akan segera menuruti omonganku. Dan tidak perlu berkali-kali untuk memberitahunya, cukup sekali dan ia dapat segera mengerti dan tidak mengulanginya lagi. Canda tawa kami menghiasai muramnya suasana ruangan rumah sakit. Banyak senyum yang tercipta melihat kedekatan dan tingkah pola kami.
Hari Kedua,
Diawali ketika Adiku, rara, datang bersama pacarnya untuk menjenguk kaka iparnya yang keadaannya belum mengalami perubahan berati di hari kedua dia dirawat. Karena air kemasan untuk yang datang menjenguk habis, aku meminta tolong kepada rara untuk membelinya. Selain beli air kemasan ternyata dia juga membeli gorengan. Ketika aku, rara dan pacarnya beristirahat di luar ruangan sambil menikmati gorengan, dhani mendekat ke arahku. Rara berinisiatif menawarkan gorengan kepada dhani. Tanpa diduga, Dhani menerima tawaran tersebut dan langsung mengambil bungkusan gorengan tersebut sambil berlalu ke bilik neneknya. Kami bertiga langsung terdiam dan saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa melihat polah anak ini. "a, maksud gw kan nawarinnya satu, napa sebungkus yang dibawa?" ucap rara diringi tawa. "Namanya juga bocah ra."
Di dalam bilik, adikku yang lain juga datang bersama orang tuaku, dalam kesempatan ini aku mengajarkan untuk mencium tangan orang yang lebih tua. Bapak dan Ibu kaget, tiba ada sesosok bocah dengan sopan menjawab salam dan langsung mencium tangan mereka. "a, ini siapa?" tanya ibu yang sedang dicium tangannya. Dhani juga dengan mampu menjawab semua pertanyaan ibu dan bapak dengan gayanya yang polos. "a, bawa pulang aja nih bocah kita adu ama anak komplek" kelakar bapak yang terlihat senang bermain dengan dhani. Dhani memberikan kecerahan sendiri bagiku dan istri. Melihat polah Dhani, istriku juga nampak bahagia.
Seluruh keluarga ema' baik anak maupun saudara kandungnya memanggilku dengan sebutan abang dan istriku dengan tante. Kata abang yang berati penghormatan. Mereka juga senang melihat kedekatanku dengan Dhani. "Om, namanya Abang ya?" tanya dhani sambil duduk diatas pagar beranda menatap ke arah jalan. "Bukan", "tapi kok mama ama abah manggil om abang sih?", "Panggil aku Om Jin" jawabku singkat, tawa kami langsung meledak yang rupanya menjadi perhatian baik yang berada di beranda maupun yang diruangan. Sejak saat itulah dia memanggilku dengan nama OM JIN sedangkan istriku dipanggil dengan nama Kaka Jin. Nama ini yang mendekatkan kami berdua. Namun nama itu juga membuat kaget beberapa orang uang mendengarnya namun selalu diakhiri tawa.
Ketika aku ingin membeli roti untuk istriku, dhani merajuk ingin ikut denganku. Akupun mengizinkannya jika mama atau abah dhani memberikan izin. Secepat kilat dia kembali ke bilik neneknya dan berteriak, "Mah aku pergi dulu ya ikut Om Jin", sontak ucapan itu membuat kaget mama, mamang dan abahnya dhani, bahkan sang nenek yang masih terbaring juga kaget mendengarnya. Namun semua menjadi tawa ketika Dhani menjelaskan bahwa Om Jin yang dimaksud adalah aku. Diwarung sekitar rumah sakit pun gempar ketika dhani yang berada 1 meter dariku menunjuk sebotol aqua "Om Jin, aku mau minum". Penjaga warungpun dengan wajah heran langsung menatapku dan berkata "anaknya bisa melihat hal ghoib ya pak?", "iya, indigo" jawabku singkat menimpali statemennya. pengunjung lainpun terheran-heran melihat Dhani.
Kamis, 01 November 2012
Gara-Gara Mabok Avtur
Gendut & Cungkring bekerja pada perusahaan penyalur AVTUR di Jakarta. Mereka berdua sering mabuk (teler) bersama tiap akhir pekan.
"Ndut, kata orang kalo mau teler yang asyik minum avtur. Coba, yuk..!!!?" kata Cungkring pada Gendut, teman minumnya, Sabtu sore menjelang pulang kerja.
"Apa gak bahaya, Kring...??" tanya Gendut heran.
"Katanya, sih gak masalah," kata Cungkring meyakinkan.
"Kita coba aja sedikit dulu, segelas aja..!" Gendut penasaran tapi agak takut.
Akhirnya mereka mencoba minum segelas. Setelah 15 menit gak ada reaksi yang aneh selain mulai teler, mereka nambah segelas lagi.
Setelah itu mereka tertidur pulas dan bangun pukul 9 malam. Mereka pulang sempoyongan.
Esok paginya, di rumah Gendut telefon berbunyi.
"Hallo...!" Jawab Gendut.
"Eh...Kamu, Kring... Ada apa. Masih pusing, nih," sahut Gendut sambil memegang kepalanya yang masih pusing.
"Ndut, kamu udah kentut belum?" tanya Cungkring.
"Jangan sampai kentut, ya... Pokoknya jangan sampai kentut!" katanya lagi.
Gendut keheranan.
"Emang kenapa Kring, kentut khan biasa. Emang aku belum kentut, sih," jawab Gendut penasaran.
"Pokoknya jangan kentut...! Tadi aku kentut pas di depan rumah, Sekarang aku di Banjarmasin...!"
"Ndut, kata orang kalo mau teler yang asyik minum avtur. Coba, yuk..!!!?" kata Cungkring pada Gendut, teman minumnya, Sabtu sore menjelang pulang kerja.
"Apa gak bahaya, Kring...??" tanya Gendut heran.
"Katanya, sih gak masalah," kata Cungkring meyakinkan.
"Kita coba aja sedikit dulu, segelas aja..!" Gendut penasaran tapi agak takut.
Akhirnya mereka mencoba minum segelas. Setelah 15 menit gak ada reaksi yang aneh selain mulai teler, mereka nambah segelas lagi.
Setelah itu mereka tertidur pulas dan bangun pukul 9 malam. Mereka pulang sempoyongan.
Esok paginya, di rumah Gendut telefon berbunyi.
"Hallo...!" Jawab Gendut.
"Eh...Kamu, Kring... Ada apa. Masih pusing, nih," sahut Gendut sambil memegang kepalanya yang masih pusing.
"Ndut, kamu udah kentut belum?" tanya Cungkring.
"Jangan sampai kentut, ya... Pokoknya jangan sampai kentut!" katanya lagi.
Gendut keheranan.
"Emang kenapa Kring, kentut khan biasa. Emang aku belum kentut, sih," jawab Gendut penasaran.
"Pokoknya jangan kentut...! Tadi aku kentut pas di depan rumah, Sekarang aku di Banjarmasin...!"
suami unggul vs sapi unggul
pada suatu kunjungan di sebuah pertenakan dalam seminar keluarga harmonis pemandu menceritakan bahwa sapi di pertenakan tersebut sangat kuat kuat.
pemandu: bapak ibu ini adalah sapi dari newseland sangat kuat dalam 1 hari bisa berhubungan dengan 5 sapi betina
ibu ibu sambil menyegol suaminya: tuh pak 5 kali sehari bisa ga
pemandu :bapak ibu ini adalah sapi dari australia lebih kuat dalam 1 hari bisa berhubungan dengan 10 sapi betina
ibu ibu sambil menyegol suaminya: tuh pak 10, bayangin coba
bapak bapak yang kesal: pak pemandu 10x sama betina yang sama
?
pemandu : tentu tidak
bapak bapak : tuh mah betinanya beda boleh ga ?
pemandu: bapak ibu ini adalah sapi dari newseland sangat kuat dalam 1 hari bisa berhubungan dengan 5 sapi betina
ibu ibu sambil menyegol suaminya: tuh pak 5 kali sehari bisa ga
pemandu :bapak ibu ini adalah sapi dari australia lebih kuat dalam 1 hari bisa berhubungan dengan 10 sapi betina
ibu ibu sambil menyegol suaminya: tuh pak 10, bayangin coba
bapak bapak yang kesal: pak pemandu 10x sama betina yang sama
pemandu : tentu tidak
bapak bapak : tuh mah betinanya beda boleh ga ?
Calon Anak Durhaka
S : suami
I : Istri
sepasang suami istri yang umur pernikahannya baru sekitar 3bln.
suatu malam sang suami mengajak kimpoy, dengan semangat yang menggebu karna sudah seminggu baru pulang dari dines di luar kota.
dan terjadilah percakapan:
S : mah, aku kangen niih...kimpoy yuk
I : kimpoy?? malem ini pah??
aku lagi merah nih pah..baru kemarin..
S : yang bener mah?

pake mulut deh maah...
yah,yah,yaah...
I : aduuh paah...aku lagi sariawan lo.. papah tega, nih lihat.
sambil menarik bibirnya yang sariawan.
I : papah kluarin sendiri aja yah di kamar mandi..
S : yasudah papah ke kamar mandi dlu..
setelah kurang lebih 15 mnt tiba2 terdengar suara gaduh dari dalam kamar mandi!
guprakkk daggpletakkkk......! Awww!
I : ada apa itu pah berisik sekali..
S : ini ni mah "Dasar anak gak tau diri, belum jadi anak aja udah berani nyelakaijn orang tua. Dasar anak durhaka"!!!
sang istri menggumam dalam hati
"Oooh ternyata kepeleset sperma"!
hahaha...
I : Istri
sepasang suami istri yang umur pernikahannya baru sekitar 3bln.
suatu malam sang suami mengajak kimpoy, dengan semangat yang menggebu karna sudah seminggu baru pulang dari dines di luar kota.
dan terjadilah percakapan:
S : mah, aku kangen niih...kimpoy yuk
I : kimpoy?? malem ini pah??
S : yang bener mah?
I : aduuh paah...aku lagi sariawan lo.. papah tega, nih lihat.
sambil menarik bibirnya yang sariawan.
I : papah kluarin sendiri aja yah di kamar mandi..
S : yasudah papah ke kamar mandi dlu..
setelah kurang lebih 15 mnt tiba2 terdengar suara gaduh dari dalam kamar mandi!
guprakkk daggpletakkkk......! Awww!
I : ada apa itu pah berisik sekali..
S : ini ni mah "Dasar anak gak tau diri, belum jadi anak aja udah berani nyelakaijn orang tua. Dasar anak durhaka"!!!
sang istri menggumam dalam hati
"Oooh ternyata kepeleset sperma"!
hahaha...
Selasa, 30 Oktober 2012
Dimana Kesetiakawanan Itu Berada??
Semua tampak sempurna ketika semua hal diantara kita mengalir begitu saja. Seperti air yang menyatu dan mengalir bersama. Kekompakan itu jelas terasa, senyum dan senda gurau menyatu dalam tiap kepulan asap rokok dan kopi yang kita nikmati. Sejarah dari masing-masing kita seakan lenyap begitu saja. Sungguh indah persahabatan yang terjalin.
Caci maki, keluh kesah tak bosan membuntuti apa yang sedang terjadi. kearifan dan kedewasaanlah yang menjaga batas kita dengan keluh kesah. Semua tampak sejati namun tidak ketika kita bicara tentang alur birokrasi. Semua terbantahkan dengan adanya syarat prasyarat yang diatur oleh Hirarki.
Masa lalu yang sudah terkubur lebih rendah dari lapisan tanah terendah seakan mencuat, menggunung kembali. Praduga berkembang melebihi fakta sejarah yang pernah terjadi. Dan akhirnya semua menjadi hening. Sepi, tanpa kata. Kembali suram, kopi yang ada kini menjadi dingin, tanda kita sudah tak seperti dulu.
Kamis, 26 April 2012
ngakalin RAM dengan FD
Pernahkah Anda merasakan PC/Laptop performanya semakin hari semakin menurun. Itu bisa disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah kekurangan memory atau RAM. Hal ini bukan masalah bagi Anda yang banyak duit, tetapi misalnya pelajar, pasti akan sangat mahal baginya untuk membeli/mengupgrade RAM.
Namun, kali ini saya akan beri tahu Anda cara menjadikan USB Fashdisk sebagai RAM, namun Anda harus merelakan salah satu port USB untuk dijadikan slot default Flashdisk RAM.
Berikut ini langkah-langkahnya :
1. Colokkan Flashdisk pada slot USB yang Anda kehendaki.
2. Klik menu Start>Control Panel>pilih ikon System. lalu klik tab advanced.
3. Klik tombol Settings pada bagian Performance. Setelah itu klik tab Advance pada jendela Performance Options, lalu klik tombol Change di bagian Virtual Memory untuk menampilkan kotak penyetingan memory virtual.
4. Klik drive C:
5. Pilih opsi No Paging File pada radio Button yang ada, dan tandailah books Set.
6. Pilih drive yang menyatakan Flashdisk Anda. Setelah itu tandai opsi System Managed Size pada radio button.lalu kliklah tombol Set. Kalau ternyata rekomendasi total paging file size-nya terlalu besar, Anda bisa memasukkan nilai kapasitas total Flashdisk.
7. Klik OK,,dan Restart komputer anda…
Rasakan sendiri perbedaannya….
ENJOY IT BRO….!!
Tambahan : Ini bukan sebagai tambahan memory ram , tapi sebagai PENGGANTI PENAMPUNG CACHE MEMORY
Sumber : http://coretanpemula.wordpress.com/2...da-windows-xp/
Namun, kali ini saya akan beri tahu Anda cara menjadikan USB Fashdisk sebagai RAM, namun Anda harus merelakan salah satu port USB untuk dijadikan slot default Flashdisk RAM.
Berikut ini langkah-langkahnya :
1. Colokkan Flashdisk pada slot USB yang Anda kehendaki.
2. Klik menu Start>Control Panel>pilih ikon System. lalu klik tab advanced.
3. Klik tombol Settings pada bagian Performance. Setelah itu klik tab Advance pada jendela Performance Options, lalu klik tombol Change di bagian Virtual Memory untuk menampilkan kotak penyetingan memory virtual.
4. Klik drive C:
5. Pilih opsi No Paging File pada radio Button yang ada, dan tandailah books Set.
6. Pilih drive yang menyatakan Flashdisk Anda. Setelah itu tandai opsi System Managed Size pada radio button.lalu kliklah tombol Set. Kalau ternyata rekomendasi total paging file size-nya terlalu besar, Anda bisa memasukkan nilai kapasitas total Flashdisk.
7. Klik OK,,dan Restart komputer anda…
Rasakan sendiri perbedaannya….
ENJOY IT BRO….!!
Tambahan : Ini bukan sebagai tambahan memory ram , tapi sebagai PENGGANTI PENAMPUNG CACHE MEMORY
Sumber : http://coretanpemula.wordpress.com/2...da-windows-xp/
Langganan:
Postingan (Atom)