Loh koq judulnya gitu lagi ya?? Bukannya kebanyakan orang lebih senang menyimpan kenangan terindahnya dari pada kenangan pahit? Bukannya menyimpan kenangan pahit bisa ngebuat kita selalu berada dilingkaran "Pahit" itu dan sulit keluar? Penting ya buat nyimpen kenangan pahit masa lalu?
Kenangan Indah membuat kita menyadari betapa indahnya kehidupan yang kita jalanin, sadar atau tidak sadar kita akan berterima kasih kepada Sang Penciptakarena sudah diberi kenikmatan mencicipi indahnya dunia. Sedangkan kenangan pahit akan membuat kita belajar betapa kerasnya hidup memberikan cobaan kepada kita, namun terkadang kita justru terbuai dengan penggalauan yang terbentuk dari atmosfir kepahitan sehingga kita ingin segera melupakan kenangan pahit yang kita alami.
Sebagai pribadi yang terus belajar dari pengalaman hidup, selayaknya kita tidak terbuai oleh penggalauan yang berdampak sistemik, Penggalauan yang memiliki efek domino yang besar terhadap hidup kita. Dari kenangan pahit kita bisa belajar kenapa hal itu bisa terjadi dan mempelajari semua hal yang bisa mengeliminir kemungkinan terjadinya kenangan pahit itu terulang. Andaipun kita tidak dapat mengeliminir faktor-faktor yang bisa menyebabkan terulang lagi, kita dapat mempersiapkan mental untuk menghadapi masalah dengan tenang mengupayakan agar masalah tersebut tidak menjadi kenangan pahit.
Inti dari tulisan ini, Kita bukan memelihara kenangan pahit tersebut, namun merubah kenangan pahit tersebut sebagai upaya kita memperkaya menajemen pikiran dalam menghadapi masalah. Masalah bukan untuk dihindari tapi di hadapi. Selesai atau tidak masalah tersebut, Sang Kuasa pasti membantu kita dan kita bukan berkata "ya Tuhan Masalah ku sangat besar", tapi kita akan berkata, "Hai Masalah, kau tidak ada artinya karena ku Punya Tuhan Yang Maha Besar". Otomatis bakal calon kenangan pahit itu tidak akan berevolusi sebagai kenangan pahit, tapi kenangan yang akan kita kenang dengan senyuman.
Dibesarkan dengan lingkungan yang tak bersahabat, menipu bukan sebuah tindakan yang salah namun sebuah tindakan bersahabat.
Rabu, 14 Desember 2011
Selasa, 13 Desember 2011
Ga ada jalan yang ga bergelombang, Ga ada jalan yang ga bersimpang
Dimanakah saat ini kita berada? Apa sudah benar jalan yang kita tempuh? Luruskah kita berjalan dari tiap cabang yang selalu kita jumpai di depan jalan?
Entah kenapa sejak gw menginjak masa remaja, masa dimana ego seseorang akan mengalir dengan derasnya mengikuti jalan yang selalu dianggapnya benar untuknya, gw mulai terpikir tentang masa depan yang selalu menjadi rahasia terindah yang diberikan Allah SWT kepada gw. Mungkin gw kekurangan masa muda yang selalu dikatakan orang sebagai masa terindah.
Diusia yang masih hijau, langsung atau tidak bonyok gw selalu melatih gw untuk bertanggung jawab terhadap tiap pilihan jalan yang harus gw pilih. Bokap selalu mengajak berdiskusi tentang prediksi-predisi kedepan terhadap tiap pilihan yang gw ambil. Nyokap selalu mengungkapkan tiap hikmah dari pilihan gw. Sampe sekarang gw ga bisa terlepas dari saran pendapat kedua orangtua gw karena gw turut berfikir orang tua masih punya andil yang besar terhadap pilihan yang harus gw pilih sebagai rasa hormat, cinta, dan sayang kepada mereka yang telah membesarkan gw dengan perjuangan yang sangat luar biasa dalam membentuk gw saat ini.
Sampai tiba hari itu, dimana alur pikir dan hati gw bertentangan dengan bokap. Awal bulan Desember 2011, gw meminta istri untuk menyusul gw yang sedang tugas di jogja. Bokap berpendapat, ga etis bila istri jalan sendiri untuk jarak yang jauh, akan ada penilaian buruk dari rekan-rekan kantor bila istri turut berada di lokasi tugas, jika ada hal buruk terjadi pada istri di jalan maka itu akan menjadi kesalahan terbesar gw. Gw ga sanggup untuk mengutarakan argumen gw kepada bokap yang saat itu sangat emosi. Bagaimanapun juga status gw masih anaknya dan pantang bagi gw untuk memperkeruh suasana dengan argumen gw yang bisa langsung dia patahin.
Argumen gw yang pengen gw utarain pada saat itu, ini merupakan moment yang tepat melakukan study tour buat istri gw terkait etika istri di kantor gw yang gw nilai kurang dipahami oleh istri gw, memberikan akses buat istri gw agar dia mengetahui apa dan bagaimana cara gw kerja di luar kota. Maksudnya untuk menghilangkan kekhawatiran istri terhadap gw yang sedang jauh darinya. Dan yang terakhir menunaikan janji gw untuk membawanya ke jogja di akhir tahun.
Untuk mengambil keputusan itu, gw tetap mempertimbangkan saran pendapat yang diberikan bonyok kepada gw. Bagaimanapun saranpendapat mereka merupakan yang terhebat dari konsultan manapun. Saran pendapat mereka merupakan acuan bagi gw untuk meminimalisir segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi. pemilihan rute perjalanan, akomodasi, posisi yang dapat membebaskan dia untuk memperhatikan pekerjaan gw tanpa diketahui rekan-rekan kerja dan bos gw.
Dan semua terkendali seperti yang gw rencanain. Semua ga lepas dari saran pendapat dari bonyok. Namun disisi lain, bonyok masih memiliki kekhawatiran rencana gw ga berjalan dengan maksimal. Dengan kondisi demikian gw merasa, ini merupakan pernyataan sikap gw untuk menunjukan bahwa gw bisa menerapkan apa yang diajarkan orang tua gw dari kecil. Dan pasti bokap berpikiran seperti itu, padahal bukan itu yang gw pengenin.Gw cuma menjalankan rencana hidup gw. itu doang, bukan berusaha menunjukan kemampuan gw ma bonyok. Ga ada jalan yang ga bergelombang, ga ada jalan yang tak bersimpang. itu makanya gw selalu berfikir
Dimanakah saat ini kita berada? Apa sudah benar jalan yang kita tempuh? Luruskah kita berjalan dari tiap cabang yang selalu kita jumpai di depan jalan?
Entah kenapa sejak gw menginjak masa remaja, masa dimana ego seseorang akan mengalir dengan derasnya mengikuti jalan yang selalu dianggapnya benar untuknya, gw mulai terpikir tentang masa depan yang selalu menjadi rahasia terindah yang diberikan Allah SWT kepada gw. Mungkin gw kekurangan masa muda yang selalu dikatakan orang sebagai masa terindah.
Diusia yang masih hijau, langsung atau tidak bonyok gw selalu melatih gw untuk bertanggung jawab terhadap tiap pilihan jalan yang harus gw pilih. Bokap selalu mengajak berdiskusi tentang prediksi-predisi kedepan terhadap tiap pilihan yang gw ambil. Nyokap selalu mengungkapkan tiap hikmah dari pilihan gw. Sampe sekarang gw ga bisa terlepas dari saran pendapat kedua orangtua gw karena gw turut berfikir orang tua masih punya andil yang besar terhadap pilihan yang harus gw pilih sebagai rasa hormat, cinta, dan sayang kepada mereka yang telah membesarkan gw dengan perjuangan yang sangat luar biasa dalam membentuk gw saat ini.
Sampai tiba hari itu, dimana alur pikir dan hati gw bertentangan dengan bokap. Awal bulan Desember 2011, gw meminta istri untuk menyusul gw yang sedang tugas di jogja. Bokap berpendapat, ga etis bila istri jalan sendiri untuk jarak yang jauh, akan ada penilaian buruk dari rekan-rekan kantor bila istri turut berada di lokasi tugas, jika ada hal buruk terjadi pada istri di jalan maka itu akan menjadi kesalahan terbesar gw. Gw ga sanggup untuk mengutarakan argumen gw kepada bokap yang saat itu sangat emosi. Bagaimanapun juga status gw masih anaknya dan pantang bagi gw untuk memperkeruh suasana dengan argumen gw yang bisa langsung dia patahin.
Argumen gw yang pengen gw utarain pada saat itu, ini merupakan moment yang tepat melakukan study tour buat istri gw terkait etika istri di kantor gw yang gw nilai kurang dipahami oleh istri gw, memberikan akses buat istri gw agar dia mengetahui apa dan bagaimana cara gw kerja di luar kota. Maksudnya untuk menghilangkan kekhawatiran istri terhadap gw yang sedang jauh darinya. Dan yang terakhir menunaikan janji gw untuk membawanya ke jogja di akhir tahun.
Untuk mengambil keputusan itu, gw tetap mempertimbangkan saran pendapat yang diberikan bonyok kepada gw. Bagaimanapun saranpendapat mereka merupakan yang terhebat dari konsultan manapun. Saran pendapat mereka merupakan acuan bagi gw untuk meminimalisir segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi. pemilihan rute perjalanan, akomodasi, posisi yang dapat membebaskan dia untuk memperhatikan pekerjaan gw tanpa diketahui rekan-rekan kerja dan bos gw.
Dan semua terkendali seperti yang gw rencanain. Semua ga lepas dari saran pendapat dari bonyok. Namun disisi lain, bonyok masih memiliki kekhawatiran rencana gw ga berjalan dengan maksimal. Dengan kondisi demikian gw merasa, ini merupakan pernyataan sikap gw untuk menunjukan bahwa gw bisa menerapkan apa yang diajarkan orang tua gw dari kecil. Dan pasti bokap berpikiran seperti itu, padahal bukan itu yang gw pengenin.Gw cuma menjalankan rencana hidup gw. itu doang, bukan berusaha menunjukan kemampuan gw ma bonyok. Ga ada jalan yang ga bergelombang, ga ada jalan yang tak bersimpang. itu makanya gw selalu berfikir
Dimanakah saat ini kita berada? Apa sudah benar jalan yang kita tempuh? Luruskah kita berjalan dari tiap cabang yang selalu kita jumpai di depan jalan?
Selasa, 06 Desember 2011
Kembalinya yang telah hilang
sebuah judul yang kaga jelas sekali lagi menghias blog gw yang kaga jelas juga.. hahahha
gw yakin semua orang pasti pernah ngerasain semangat yang luar biasa waktu nyelesain tugasnya. mungkin itu korelasi judul ama isi tulisan ini.
gw pernah ngerasain semangat yang sangat luar biasa waktu mulai bekerja di bidang yang gw sukai, bukan lagi luar biasa tapi sangat luar biasa. seakan ga ada kata susah dalam nyelesaian apa yang menjadi tugas gw. ga ada ceritanya tembok yang ga bisa dipanjat (koq tembok?? kalo gunung gw dah ga sanggup>> wkwkwkwkw). Semua begitu indah, semua begitu menyenangkan. apalagi ada dorongan semangat dari orang2 yang kita sayangin.
Suasana itu pernah hilang selama 3 tahun belakangan ini. dituduh dengan sebuah kata yang sampai sekarang gw ga tau definisinya. Loyalitas!!!!!!!!!!!!!!!!! Menurut lo apa sih yang dimaksud dengan loyalitas? Sebelumnya gw menganggap loyalitas itu integritas dari Kesetiaan, Kepatuhan, Komitmen, Tanggung Jawab dan Pengorbanan. Bener ga sih definisi loyalitas yang gw utarakan tadi?
ketika gw mendedikasikan seluruh hidup gw buat pekerjaan dan ada seorang bos yang tiba-tiba muncul dari antah berantah menyatakan loyalitas gw dipertanyakan gara2 blankspot area tanpa melihat hasil kerja gw. Hayah, rontok semua semangat juang gw. ampe bingung dari mana gw harus mulai membangun semangat itu lagi?
Kini tiba saatnya, ketika gw dipercaya buat mendampingi bos lainnya dalam menyelesaikan masalahnya. haha, bener-bener semangat itu hadir lagi. Walaupun konsekwensinya gw harus berada di rumah tiap sabtu minggu doang dan sisanya diluar daerah. Sebuah penghargaan yang membangkitkan semangat juang gw lagi. Dan semangat itu ga akan ilang lagi dimanapun gw kerja.>>
Good Liuck Kawan>>>>>>>>>>
gw yakin semua orang pasti pernah ngerasain semangat yang luar biasa waktu nyelesain tugasnya. mungkin itu korelasi judul ama isi tulisan ini.
gw pernah ngerasain semangat yang sangat luar biasa waktu mulai bekerja di bidang yang gw sukai, bukan lagi luar biasa tapi sangat luar biasa. seakan ga ada kata susah dalam nyelesaian apa yang menjadi tugas gw. ga ada ceritanya tembok yang ga bisa dipanjat (koq tembok?? kalo gunung gw dah ga sanggup>> wkwkwkwkw). Semua begitu indah, semua begitu menyenangkan. apalagi ada dorongan semangat dari orang2 yang kita sayangin.
Suasana itu pernah hilang selama 3 tahun belakangan ini. dituduh dengan sebuah kata yang sampai sekarang gw ga tau definisinya. Loyalitas!!!!!!!!!!!!!!!!! Menurut lo apa sih yang dimaksud dengan loyalitas? Sebelumnya gw menganggap loyalitas itu integritas dari Kesetiaan, Kepatuhan, Komitmen, Tanggung Jawab dan Pengorbanan. Bener ga sih definisi loyalitas yang gw utarakan tadi?
ketika gw mendedikasikan seluruh hidup gw buat pekerjaan dan ada seorang bos yang tiba-tiba muncul dari antah berantah menyatakan loyalitas gw dipertanyakan gara2 blankspot area tanpa melihat hasil kerja gw. Hayah, rontok semua semangat juang gw. ampe bingung dari mana gw harus mulai membangun semangat itu lagi?
Kini tiba saatnya, ketika gw dipercaya buat mendampingi bos lainnya dalam menyelesaikan masalahnya. haha, bener-bener semangat itu hadir lagi. Walaupun konsekwensinya gw harus berada di rumah tiap sabtu minggu doang dan sisanya diluar daerah. Sebuah penghargaan yang membangkitkan semangat juang gw lagi. Dan semangat itu ga akan ilang lagi dimanapun gw kerja.>>
Good Liuck Kawan>>>>>>>>>>
Senin, 05 Desember 2011
Bila Akhirnya Tidak Baik Itu Adalah Keputusan Untuk Menjadi Diri Sendiri Yang Harus Dihormati
Awalnya, kalimat judul diatas hanya gw anggap sebagai sebuah alibi dari pengingkaran yang akan berlangsung. namun setelah waktu terus berputar dengan penuh komitmennya untuk maju tanpa bisa mundur, gw perlahan bisa mengerti kenapa kalimat judul diatas bisa tercipta.
kalimat tersebut bukan merupakan bentuk pengingkaran berperiode. Kalimat tersebut merupakan sebuah usaha untuk menjadi yang terbaik tanpa mengurangi essensi diri pribadi. Ketika kita memaksakan sesuatu yang bertentangan dengan hati maka semua yang dilakukan tidak akan maksimal, baik hasil maupun kepuasan bathin. Kita akan terus mencari yang terbaik dari yang terbaik dan hal itu tidak akan ada ujungnya.
Perkenalanku dengan orang yang menyampaikan kalimat judul tersebut, sangat mungkin titipan Tuhan yang ingin mengajarkan sesuatu melalui apa yang disukainya. Berkali-kali, gw dihadapkan dengan situasi yang memaksakan gw untuk mengucapkan kalimat yang sama. Kepada si Ajaib yang telah menempatkan gw di posisi yang harus dipilih, kepada si penyayang dan si "pure" yang dipaksakan keadaan. Ya kepada mereka yang telah sangat berati dalam hidup gw....
Terima kasih untuk kalian yang telah hadir dan menjadi bagian terindah dalam hidup gw dan mengajarkan beberapa pelajaran berharga.
Dan terima kasih untuk Istriku yang telah mencintai dan menyayangiku dengan caranya sendiri.
kalimat tersebut bukan merupakan bentuk pengingkaran berperiode. Kalimat tersebut merupakan sebuah usaha untuk menjadi yang terbaik tanpa mengurangi essensi diri pribadi. Ketika kita memaksakan sesuatu yang bertentangan dengan hati maka semua yang dilakukan tidak akan maksimal, baik hasil maupun kepuasan bathin. Kita akan terus mencari yang terbaik dari yang terbaik dan hal itu tidak akan ada ujungnya.
Perkenalanku dengan orang yang menyampaikan kalimat judul tersebut, sangat mungkin titipan Tuhan yang ingin mengajarkan sesuatu melalui apa yang disukainya. Berkali-kali, gw dihadapkan dengan situasi yang memaksakan gw untuk mengucapkan kalimat yang sama. Kepada si Ajaib yang telah menempatkan gw di posisi yang harus dipilih, kepada si penyayang dan si "pure" yang dipaksakan keadaan. Ya kepada mereka yang telah sangat berati dalam hidup gw....
Terima kasih untuk kalian yang telah hadir dan menjadi bagian terindah dalam hidup gw dan mengajarkan beberapa pelajaran berharga.
Dan terima kasih untuk Istriku yang telah mencintai dan menyayangiku dengan caranya sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)