"Om Jin!!!!!!!! Kalo om Jin pulang aku main ama siapa?"
Itulah
kalimat terakhir yang keluar dari bocah lima tahun yang selama 5 hari
menemaniku di Rumah Sakit ketika Istri dirawat karena penyakit Typhus.
Kedekatanku dengan bocah itu diawali ketika sepasang mata mengintip
dibalik tirai yang memisahkan ruang pasien. Ketika beradu pandang dengan
sang pengintip, akhirnya bocah itu memberanikan diri untuk masuk ke
bilik tempat istri dirawat. Dengan tertunduk malu, wajah polos
menyunggingkan sebuah senyum yang terlihat damai. Aku mengambil
sebungkus biskuit dan langsung memberikannya pada bocah itu. Senyumnya
semakin melebar dan langsung keluar bilik menuju bilik neneknya yang
sedang dirawat juga. "Udah bilang makasih belum ma om-nya" terdengar
suara dari seberang bilik dengan gaya khas keibuan. Tirai bilik di buka
dan "Makasih Om". Itulah kata pertama yang kudengar dari mulutnya.
Rizky
Ramadhani, Lahir pada 15 oktober 2007 merupakan cucu dari Ema' Namah
dan Baba Ni'mat. Ema dirawat karena kadar gulanya sangat rendah. Sebulan
sebelumnya Ema' juga dirawat di RS Bhayangkara Brimob Kelapa Dua dengan
Kadar Gula yang tinggi, dirawat selama 15 hari dan diizinkan pulang
karena semua kadar kesehatannya sudah dalam keadaan normal. Namun karena
ga mau makan dan penggunaan obat tetap berlangsung akhirnya
kesehatannya kembali memburuk dan sempat koma beberapa saat sebelum
dilarikan ke Rumah Sakit. Bahkan ketika dalam keadaan koma, tetangga
ema' sudah mau datang melayat. Keputusan tepat dari keluarga untuk
segera membawanya ke Rumah Sakit hingga ema' dapat kembali "bawel".
Karena
dirawat dalam satu ruangan, akhirnya aku dan keluarga ema' menjadi
akrab, khususnya dengan Dhani -nama panggilan bocah itu- dan baba
kakenya. Dhani dapat dikatakan sebagai anak yang pintar, aku sebagai
yang lebih tua dapat dengan mudah bicara apapun dengannya, "Nyambung".
Jika ada kata atau hal baru yang belum diketahui, maka dia akan segera
menanyakan dengan gaya khas seorang bocah. Satu hal yang aku sukai dari
bocah ini adalah ketika aku memberitahu bahwa yang dilakukannya itu
salah atau tidak baik, maka ia akan segera menuruti omonganku. Dan tidak
perlu berkali-kali untuk memberitahunya, cukup sekali dan ia dapat
segera mengerti dan tidak mengulanginya lagi. Canda tawa kami menghiasai
muramnya suasana ruangan rumah sakit. Banyak senyum yang tercipta
melihat kedekatan dan tingkah pola kami.
Hari Kedua,
Diawali
ketika Adiku, rara, datang bersama pacarnya untuk menjenguk kaka iparnya
yang keadaannya belum mengalami perubahan berati di hari kedua dia
dirawat. Karena air kemasan untuk yang datang menjenguk habis, aku
meminta tolong kepada rara untuk membelinya. Selain beli air kemasan
ternyata dia juga membeli gorengan. Ketika aku, rara dan pacarnya
beristirahat di luar ruangan sambil menikmati gorengan, dhani mendekat
ke arahku. Rara berinisiatif menawarkan gorengan kepada dhani. Tanpa
diduga, Dhani menerima tawaran tersebut dan langsung mengambil bungkusan
gorengan tersebut sambil berlalu ke bilik neneknya. Kami bertiga
langsung terdiam dan saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa
melihat polah anak ini. "a, maksud gw kan nawarinnya satu, napa
sebungkus yang dibawa?" ucap rara diringi tawa. "Namanya juga bocah ra."
Di
dalam bilik, adikku yang lain juga datang bersama orang tuaku, dalam
kesempatan ini aku mengajarkan untuk mencium tangan orang yang lebih
tua. Bapak dan Ibu kaget, tiba ada sesosok bocah dengan sopan menjawab
salam dan langsung mencium tangan mereka. "a, ini siapa?" tanya ibu yang
sedang dicium tangannya. Dhani juga dengan mampu menjawab semua
pertanyaan ibu dan bapak dengan gayanya yang polos. "a, bawa pulang aja
nih bocah kita adu ama anak komplek" kelakar bapak yang terlihat senang
bermain dengan dhani. Dhani memberikan kecerahan sendiri bagiku dan
istri. Melihat polah Dhani, istriku juga nampak bahagia.
Seluruh
keluarga ema' baik anak maupun saudara kandungnya memanggilku dengan
sebutan abang dan istriku dengan tante. Kata abang yang berati
penghormatan. Mereka juga senang melihat kedekatanku dengan Dhani. "Om,
namanya Abang ya?" tanya dhani sambil duduk diatas pagar beranda menatap
ke arah jalan. "Bukan", "tapi kok mama ama abah manggil om abang sih?",
"Panggil aku Om Jin" jawabku singkat, tawa kami langsung meledak yang
rupanya menjadi perhatian baik yang berada di beranda maupun yang
diruangan. Sejak saat itulah dia memanggilku dengan nama OM JIN
sedangkan istriku dipanggil dengan nama Kaka Jin. Nama ini yang
mendekatkan kami berdua. Namun nama itu juga membuat kaget beberapa
orang uang mendengarnya namun selalu diakhiri tawa.
Ketika aku ingin
membeli roti untuk istriku, dhani merajuk ingin ikut denganku. Akupun
mengizinkannya jika mama atau abah dhani memberikan izin. Secepat kilat
dia kembali ke bilik neneknya dan berteriak, "Mah aku pergi dulu ya ikut
Om Jin", sontak ucapan itu membuat kaget mama, mamang dan abahnya
dhani, bahkan sang nenek yang masih terbaring juga kaget mendengarnya.
Namun semua menjadi tawa ketika Dhani menjelaskan bahwa Om Jin yang
dimaksud adalah aku. Diwarung sekitar rumah sakit pun gempar ketika
dhani yang berada 1 meter dariku menunjuk sebotol aqua "Om Jin, aku mau
minum". Penjaga warungpun dengan wajah heran langsung menatapku dan
berkata "anaknya bisa melihat hal ghoib ya pak?", "iya, indigo" jawabku
singkat menimpali statemennya. pengunjung lainpun terheran-heran melihat
Dhani.