Selasa, 20 September 2011

Peningkatan Kemampuan Saat Kepepet

Sadar ataupun tidak, ada sesuatu yang berbeda ketika kita berada dalam posisi terjepit, tertekan ataupun kepepet. Disaat dikejar anjing, kemampuan berlari kita semakin meningkat daya pikirpun agak terbuka supaya kita tidak digigit anjing. Saat dikejar-kejar aparat waktu demo, kemampuan melarikan diri kitapun semakin meningkat, tembok yang tinggipun bisa kita panjat dengan mudahnya dan luka lecet-lecet dibadanpun tidak terasa. Kemana kemampuan kita disaat kita tidak ada masalah?????

Bokap selalu berkata, "kalo ga dipaksain lo ga bakalan mikir". Pendapat yang cukup aneh ketika pertama kali mendengernya. Dilihat dari kehidupan penulis yang selalu dicukupkan kebutuhannya selama usia sekolah, pendapat itu seakan tidak ada artinya. Karena apa yang diinginkan oleh penulis dengan mudah diperoleh. Paling usaha yang dibutuhkan penulis hanya bersabar (kalo merengek pasti kena buah tangan *red : digampar).

Kehidupanpun berlanjut, dari masa sekolah menjalani masa dewasa yang diharuskan mandiri dan tanggung jawab terhadap pribadinya. Kasih sayang bokappun disampaikan dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Sejak pertama kali bekerja, wujud kasih sayang itu sungguh beda terasa. Mungkin untuk personal yang dimanjakan mereka akan bilang kalo bokap sudah tidak sayang. Bagaimana tidak, yang sebelumnya disedikan sekarang harus mulai mencari dan mendapatkannya sendiri.

Atas didikan dan ajaran yang diberikan orang tua sejak kecil serta restu dari mereka, aku tidak kesulitan untuk memperoleh pekerjaan sebagai bekal menjalani hidup. Pelajaran pertama yang diberikan bokap yaitu dengan membantu adik-adikku yang masih dalam usia pendidikan. Aku harus menyisihkan pendapatanku untuk orang tua, kakek dan nenek serta kedua adik-adikku. Nyaris pendapatanku ludes untuk keperluan yang aku sebutkan tadi. Bahkan untuk jajanpun aku harus berhemat.

Cerita sebelum turunnya amanat tersebut, waktu aku pulang dari pacaran dan ditanya berapa uang yang aku habiskan untuk pacaran. Aku memberitahu biaya pacaranku dan yang terjadi adalah aku diberondong nasihat-nasihat bersikap seperti orang yang telah menikah. "Untuk pasangan yang telah menikah uang yang lo habiskan buat pacaran bisa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama seminggu, kalo dibiasakan menghabiskan uang untuk kegiatan hura-hura itu akan berlanjut sampai lo nikah nanti". "sebuah kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang dan berkelanjutan akan menjadi sebuah kebutuhan". Sebuah pelajaran hidup yang sangat bermanfaat.

Dengan minimnya sisa pendapatan, aku mulai berfikir bagai mana caranya mengelola sisa uang tersebut agar mencukupi kebutuhan primer, sekunder dan tersierku. Sungguh saat yang indah mengingat masa itu. Dengan uang yang minim tapi aku masih bisa menikmati hidup dan tertawa lepas bersama keluarga dan teman-temanku. Benar kata orang tuaku, rezeki tidak akan putus jika kita saling memberi.

Kehidupan berlanjut, dengan nasihat bokap, aku masih bisa menabung untuk hari depan. Dan pada saat itu, sepertinya bokap menyadari kalau aku harus diberikan pelajaran lanjutan. Dengan caranya yang tidak bisa ditebak, dimulai merencanakan pelajaran untukku. Kebutuhanku selanjutnya adalah tempat tinggal, tempat berteduh untuk aku dan anak istriku kelak. Seperti kebiasaan dirumah. kami terbiasa dengan diskusi santai diruang keluarga. Mulai tercetus ide menarik untuk mulai membangun masa depan.

Sejak diskusi itu, aku mulai memikirkan rencana masa depanku untuk memiliki rumah sendiri sebagai wujud kemandirian tanpa mengurangi rasa hormat dan sayang kepada orang tua untuk tinggal terpisah. Kendala yang dihadapi saat itu yaitu, modal. tabungan yang terkumpul sangat jauh dari modal yang diperlukan. hanya 40% dari kebutuhan. Orang tua merupakan tempat yang tepat untuk bertanya dan meminta pendapat. Sharing-sharing dan diskusi hangat mengelir indah ditengah keluarga kami.

Solusipun didapat yakni mengajukan pinjaman modal ke beberapa titik. karena untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan satu titik tidak akan mampu memenuhi kebutuhan modal tersebut. Modal didapat, para pekerjapun telah tersedia. Rencanapun dijalankan. Alhamdulillah aku mendapatkan pekerja yang sangat mengerti bidangnya. Dia memberikan beberapa rekomendasi agar modal yang tersedia dapat memaksimalkan hasil yang didapat. Akupun puas dengan hasilnya.

Beberapa saat setelah rumah jadi. Bokap mengatakan sesuatu yang membuatku berdecak kagum padanya. "Ini cara gw buat ngedidik lo, tanpa ada tekanan otak lo ga akan mampu berfikir untuk bisa mambangun rumah lo sendiri. ngutang cuma dua tahun, lo bisa bangun rumah. tekanan yang gw kasih jauh lebuuh gede dari sebelumnya dan lu mampu melewatinya. sekarang atur kehidupanlo untuk 2 tahun kedepan ga punya duit." Inilah bentuk kasih sayang bokap dalam mendidik anak-anaknya dengan caranya yang tak pernah terpikirkan oleh ku. Dia berusaha merangsang otak kita untuk mewujudkan mimpi dengan cara kita sendiri dan tetap dalam arahannya. Kita bergerak, orang tua mengawasi dan meluruskan kembali ketika cara kita mulai menyimpang.

Dengan pola pikir yang ditanamkan bokap dan wawasan yang kuterima dari luar. Akhirnya aku menyewakan rumah baru ku itu agar uang sewa tersebut dapat mengurangi beban hutang dari perwujudan mimpi. Aku tetap kembali tinggal bersama kedua orang tua ku. Sungguh indah cara bokap memberikan pelajarannya tanpa kita berfikir jika kita di dikte olehnya. Sungguh cara yang luar biasa.

Kehidupanku selanjutnya adalah pernikahan. Jauh sebelum berfikir untuk menikah. Bokap mencetuskan wacana untuk membangun rumah impian ibu, rumah yang berada tebing cungai ciliwung dengan panorama ciliwung dan udara segar dari kerimbunan yang berada di sekitar sungai ciliwung. Uang kontrakan rumahku, sebagian kecilnya yang dibayarkan untuk mengurangi beban hutangku. dan sebagian besarnya digunakan untuk modal awal untuk membangun rumah impian ibu. Rumah ini dibangun dari patungan bersama dan modal yang minim. Tidak heran jika pembangunan rumah tersebut memakan waktu yang cukup lama karena sering break kehabisan modal.

Satu bulan sebelum aku menikah rumah idaman ibu dirampungkan untuk lantai 1nya. Rupanya bokap telah memikirkan tempat tinggalku setelah aku menikah karena rumahku masih disewakan kepada orang lain dalam waktu yang lama. Disaat aku tertatih menjalani hidup untuk membayar utang, ternyata bokap telah berfikir untuk tempat tinggalku setelah aku menikah. Untuk rumah tersebut juga mau tidak mau aku melakukan peminjaman modal kembali setelah bebanku sebelumnya lunas.

Inti yang kudapatkan dari pelajaran bokap, Mimpi + Utang + Mikir = Hidup. Kita manusia pasti punya mimpi, keinginan dan kebutuhan, untuk mewujudkannya kita harus usaha, namun cara ini merupakan cara konvensional yang membutuhkan waktu lama. Untuk mempersingkatnya kita harus melakukan peminjaman modal/hutang. Ketika kita memiliki tekanan hidup diluar bayangan kita, maka kita akan berfikir untuk bisa lolos dengan selamat melati itu semua dan itu hidup yang dijalani untuk mempersingkat waktu mewujudkan impian kita. Tidak semua seindah apa yang kita harapkan. Kita harus siap menghadapi setiap masalah yang tercipta dari apa yang kita lakukan. Berfikirlah maka akan ada solusi yang ditemukan. Jangan Lupa ibadah dan doa kepada Tuhan YME. itu adalah faktor terpenting yang sering diabaikan. Tuhan tempat kita berdoa, mengadu dan berkeluh kesah. Ingat dia yang melapangkan segala masalah kita. Jangan abaikan Dia.


Ga ngutang ga mikir, ga mikir ga idup.....

Senin, 05 September 2011

Peranan Mimpi dan teman-temannya dalam hidup.

"Hidup berawal dari mimpi", itu kata Bondan Prakoso
"Impian modal pertama untuk sukses", itu kata orang MLM
"Mimpi + Cita-cita + Doa + Perencanaan + Usaha = Hidup", nah yang ini baru kata gw.

Dari kecil gw terbiasa ama anak-anak kost yang pada ngerantau dari jauh. Maklum, bokap selalu bangun kosan sebagai penopang hidup selain hasil kerjanya dia. Penghuni kost dirumah gw macem-macem, ada yang kuliah, kerja kantoran, pedagang, ampe yang ngekost cuma buat naro barang n numpang molor doang.

Dari mereka gw ngeliat sikap kemandirian yang amat sangat. Dari mereka gw ngeliat kesuksesan luar biasa. Gw ga nyangka kalo yang selama ini di kost makannya senen kemis lauknya ogah ditelen ternyata bisa bikinin rumah buat orang tuanya kampung. Sejak saat itu, gw pengen banget ngerantau, idup mandiri, ga bergantung ma orang tua.

Waktu kecil, waktu masih numpang nonton tv di tetangga, gw nonton pelem yang lagi nampilin keadaan dibandara. penilaian gw saat itu,  orang yang mo naek pesawat itu, udah pasti orang kaya, orang sukses, ma orang-orang yang terlanjur kaya. penilaian gw itu berlangsung lama banget, ampe-ampe kebawa mimpi naek pesawat. Padahal paling banter gw naek pesawat di miniaturnya TMII. Itu aja udah berasa seneng banget.

Waktu kecil juga, gw ngeliat tetangga gw yang cuma punya toko kelontongan tapi rumahnya mewah banget isinya, punya mobil, dan elektronik terupdate dijamannya. Sempet waktu itu gw compare ma mamang gw yang dagang juga. setiap item barang jualannya cuma nilai laba dikit banget. kalo gw itung ma barang dagangan tetangga gw ya paling kaga butuh waktu lama untuk mencapai tahap itu. Gw mulai bingung sendiri.

Jawaban dari kebingungan gw terjawab ketika salah satu anak dari tetangga gw itu pulang kampung. Wuih, gayanya priaya sopan luar biasa. Ngomongnya enak didenger. santun banget dah. Ternyata dia lulusan terbaik di kamusnya dan kerja di luar daerah. Hasilnya dikirim kerumah untuk menopang keluarganya. barang mewah dan mobil ternyata hasil jerih payah anaknya. Weleh-weleh. Dia jadi motivator gw buat rajin belajar dan mengisi wawasan gw. Bokap gw juga pernah bilang, "tugas lo mah sebagai anak cuma belajar yang pinter, nilai yang bagus. entar kerjaan juga nyariin lo. bukan lo yang nyari kerjaan". Gw terobsesi lagi buat rajin belajar biar dapet kerjaan yang mantep kaya anak tetangga gw itu.

Pas SMP dan SMA, gw mulai menyusun kembali apa yang gw pengenin, cita-citain dan gw mimpiin. Jelas dari kecil yang gw pengen, dapet nilai akademik yang mantep, dapet kerja yang cuma "uncang-uncang kaki" tapi hasilnya WAHHHH, naek pesawat buat idup ngerantau dan bahagiain orang tua. Orang tua, khususnya nyokap selalu dan selalu ngingetin untuk ibadah dan berdoa biar semua yang gw harapkan bisa lancarkan oleh Allah SWT. Sadar ga sadar gw jadi rajin banget ama yang namanya ngaji. Selain itu, gw juga bosan ma nasehat bokap yang bilang, "a, lo tuh anak laki. Suatu saat lo bakal bawa anak orang. Mau lo kasih makan apa anak ma bini lu?. Naasehbat bokap bikin gw tambah semangat buat berdoa dan berusaha.

Lulus SMA, semua yang gw harapkan terjawab dengan sendirinya. Waktu ada penerimaan pegawai baru di perusahaan tempat bokap kerja. Gw ngeberaniin diri buat ngambil kesempatan itu.Awalnya jipper juga. Bayangin aja dari 1000 pelamar yang diterima cuma 60 orang. Tidaaaaaaakkkkkk. Orang tua gw dateng ke kamar ngasih support gw.  Mereka bilang, " a, lo pasti bisa kalo sekolah lo kemaren ga maen-maen. Satu lagi a, sebelom lo test masuk alangkah baiknya kalo lo nazar dan minta restu ama kakek dan nenek lo. Biar semua makin lancar usaha lo". Semua petuah bonyok gw jalanin sebelum gw test.

Hari test penerimaan pun tiba. Entah dateng dari mana kepercayaan diri gw ningkat pesat. semua test gampang banget gw laluin. dan saat menerima hasil test gw bener-bener Bersyukur ma Allah SWT. Gw masih masih termasuk TOP TEN cuy. peringkat 8 dari 60 orang yang diterima. Dan gw ditempatkan di kuar daerah. luar pulau malah. penghasilan gw juga melimpah ruah dan bisa ngirim hasil keo bonyak minimal 2 kali lipet gapok gw.. Dan yang terpenting gw naek pesawat!!!!

MIMPI GW TERWUJUD SEMUA.

Cerita gw diatas bukan maksud buat sombong menyombongkan diri, tapi cuma mo ngasih penegasan apa yang gw tulis di awal tulisan ini "Mimpi + Cita-cita + Rencana + dan Usaha = Hidup". Sebenernya rumus itu masih kurang lengkap utnuk menjadi rumusan hidup. Makin lama gw hidup setidaknya masih ada dua komponen lagi, yaitu, istiqomah (konsistensi) dan tawakal. Dan yeng terpenting semua itu harus di balance dengan iman dan taqwa kepada Tuhan YME biar kalo gagal lo kaga cepet rapuh dan roboh, tapi semakin kuat menjalani hidup.