Minggu, 01 Mei 2016

Rizky Ramadhani dan Om Jin 2

Hari Ketiga
Diberanda rumah sakit, dengan sekepul asap dan sebatang rokok terselip ditangan. Aku yang sedang berkelakar dengan bapak dan Pamanku yang menjenguk istriku terhenti ketika, Dhani dengan ekspresi muka "manyun" tiba-tiba datang dan langsung memelukku serta langsung duduk dipangkuanku. "Abis dimarahi ya?" secuil pertanyaanku menebak apa yang terjadi padanya. ia hanya mengangguk pelan. "Ama mamah?", dia kembali mengangguk lemah. Kemudian dia menjelaskan kenapa dia bisa sampai dimarahi oleh mamanya. Istri pamanku yang tak lama ikut bergabungpun memberi pengertian bahwa dhani dimarahi karena dia salah. Akupun mengarahkan dhani untuk meminta maaf kepada mamahnya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Sejenak dia memandangku kemudian langsung masuk ke bilik neneknya untuk meminta maaf kepada mamahnya. Paman dan bibiku nampak heran dengan kedekatanku dengan Dhani yang seolah memang anakku. 5 menit kemudian, "Om Jiiiiiinn" diiringi keceriannya yang khas memanggilku dari dalam dan langsung kembali duduk dipangkuanku.
"Om Jin aku pulang dulu ya, mau mandi" itulah kalimat penutup hari ketigaku berada di RS.

Hari Ke Empat
seperti biasa dari pagi kami sudah bermain kembali sembari menghibur istriku yang masih terbaring. keadaannya sudah jauh lebih sehat hari ini. Bahkan seharusnya sudah pulang jika hasil lab.nya menyatakan bahwa dia sudah sehat, namun karena belum ada dokter yang membacakan hasil lab.nya jadi kami menunggu. Siang itu, ketika aku ingin tidur, sesosok kepala dengan senyum khasnya kembai nampak dari balik tirai bilik. melihat bocah itu, aku lebih ingin bermain dengannya walau badan ini terasa capai sekali. Kami kembali bersenda gurau. Meledek istriku yang belum mandi. Haha. Indah memang suasana saat ini. Kami seperti keluarga kecil yang bahagia. Tiba-tiba, "Pluk" tiang infus jatuh tepat di jidat Dhani. Bocah itu nampak menahan sakit dan air matanya. Namun sorot matanya ingin menunjutkan kepadaku dan istri bahwa dia anak yang kuat dan tidak cengeng. Aku bangga padanya. "Dhani hebatkan om, ga nangis"
ada benjol di jidatnya, aku langsung meminta maaf kepada mamah dan abahnya atas kejadian ini, tapi lagi-lagi "tiangnya jatoh sendiri" berusaha membelaku. 
Dhani, kamu emang bocah super!

Didepan keluarganya yang lain Dhani menunjukan bahwa dia dekat dengan ku, beberapa hal yang aku ajari selama beberapa hari ini selalu dibanggakannya didepan keluarganya yang datang menjenguk neneknya. Seperti biasa, ketika aku ingin membeli seuatu di sekitar rumah sakit, dia pasti ingin ikut. Tanpa aku minta kembali, dia langsung berteriak "mah, aku jalan ikut om jin ya". lagi-lagi membuat yang mendengarnya heran dan tertawa,

Pagi hari di hari kelima, istriku sudah membaik dan sudah bisa pulang. "Om Jin!!!!!!!! Kalo om Jin pulang aku main ama siapa?"
aku tak bisa menjawab. ada rasa ingin selalu bersamanya. Dhani membantuku barang-barangku. bahkan ketika aku membayar administrasi rumah sakit, dia dengan setia menemani istriku sarapan. Itulah perpisahan kami. Aku yakin kami pasti bisa ketemu lagi. Satu hal yang aku ingat, dia jalan di Jalan Situ Tipar. Tanpa aku ketahui rupanya dia terus menatapku yang hilang diujung lorong Paviliun Mawar rumah sakit ini.
Senang istriku sudah sehat, sedih karena harus berpisah dengan Dhani, si Bocah Super Om Jin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar